Duel Kedua Jokowi vs Prabowo


Panggung politik 2019 resmi jadi milik Jokowi dan Prabowo. Keduanya--setelah melewati rangkaian drama--melenggang ke Pemilu Presiden, dan dengan begitu akan mengulang duel mereka di tahun 2014. Namun, bahkan sebelum ‘perang’ benar-benar dimulai, korban dari dua kubu telah berjatuhan.

Pendaftaran capres-cawapres dibuka dengan drama getir dari koalisi Jokowi dan Prabowo.

Senja di Menteng

Sore temaram menjelang magrib, Kamis (9/8), Mahfud MD keluar dari Restoran Tesate di Menteng, Jakarta Pusat. Sudah sekitar satu jam ia berada di rumah makan yang berjarak satu menit saja berjalan kaki dari Plataran Menteng, restoran fine dining yang saat itu menjadi tempat berunding koalisi Jokowi.

Mahfud di Tesate bersama Nusron Wahid, Ketua PBNU sekaligus Ketua Bappilu Golkar Wilayah Indonesia I; Akhmad Sahal, cendekiawan muda NU; Guntur Romli, intelektual muda NU yang juga Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia; kolega-kolega di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila; dan relawan Jokowi. Betul-betul formasi lengkap.

Selanjutnya saat menerima pesan untuk meninggalkan lokasi, Mahfud tak berlama-lama. Ia langsung balik badan. Kembali ke kediaman sekaligus markasnya di Kramat, Jakarta Pusat, dan kemudian bersama rekan-rekannya di sana menonton deklarasi calon presiden-calon wakil presiden Jokowi-Ma’ruf Amin.




Nama Mahfud tersingkir di menit-menit akhir. Jokowi-Mahfud berganti menjadi Jokowi-Ma’ruf. Mahfud menyebutnya takdir.

“Tidak ada daya yang bisa diberdayakan tanpa izin Allah,” ujar Mahfud petang itu.

Padahal, baru tiga jam sebelumnya Mahfud berangkat dari Kramat menuju Menteng dengan diiringi azan dan selawat dari para pendukungnya; dan enam jam sebelumnya dipanggil ke Istana untuk mengukur baju guna dipakai mendaftar capres-cawapres di KPU.

“Ibarat orang menikah, Pak Mahfud dilamar. Lalu Pak Mahfud dan keluarganya datang ke tempat resepsi. Kami menunggu di samping lokasi resepsi. Ternyata dapat informasi mempelainya menikah dengan orang lain,” ujar Akhmad Sahal, sahabat Mahfud, kepada kumparan, Sabtu (11/8), soal Mahfud yang kena PHP (pemberi harapan palsu) Jokowi.


Pahit itu mesti ditelan bulat-bulat. Mahfud--yang didukung putri sulung Gus Dur, Yenny Wahid, sebagai cawapres--menjadi salah satu ‘korban’ yang jatuh di gerbang Pilpres. Mantan Ketua MK itu, menurut sejumlah sumber di koalisi Jokowi, dijegal oleh manuver Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

“Kalau Mahfud jadi wakil presiden, posisi Cak Imin sebagai Ketua Umum PKB terancam. PKB bisa diambil alih sama Cak Mahfud, lalu balik ke Gusdurian,” kata sumber kumparan.

Asumsi menjegal Mahfud itu dibantah oleh Wasekjen PKB Jazilul Fawaid. “Yang menghalangi Mahfud (jadi cawapres) itu dirinya sendiri. Dia nggak gaul sama partai-partai. Pun ketika namanya menguat, ia belum juga silaturahmi kecuali justru dengan Cak Imin.”

Seorang sumber di lingkup tim Jokowi mengatakan, sejak enam bulan lalu Mahfud--yang dianggap paling potensial di antara belasan nama kandidat cawapres Jokowi--telah mendapat saran untuk mengunjungi partai-partai guna mengakrabkan diri.

© Disediakan oleh Kumparan Cawapres Jokowi di Menit Terakhir

Malam di Kuningan

Agus Harimurti Yudhoyono berbicara tenang di malam gawat itu. “Sudah ada garis tangan, takdir, yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun.” Di hadapannya, tersaji kue tar untuk memperingati sederhana ulang tahunnya yang ke-40.

Takdir AHY serupa Mahfud: terpental dari kursi cawapres. Ia terlibas Sandiaga Uno, Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra, yang lebih dipilih Prabowo di hari-hari akhir.

Keputusan itu menghantam telak Demokrat, dan membuat suasana rapat di Mega Kuningan, kediaman SBY, diliputi ketegangan. Para elite Demokrat duduk dengan pose sebangun: kepala menoleh ke arah ketua umum mereka, Susilo Bambang Yudhoyono, yang sedang berbicara.

Di samping kiri SBY, duduk sang istri, Ani Yudhoyono, yang tak dapat menyembunyikan wajah muramnya. Di sisi kiri Ani agak mundur ke belakang, Annisa Pohan, istri AHY, terlihat duduk menunduk.

Demokrat tak habis pikir dengan Prabowo. “Kok capres-cawapres Gerindra-Gerindra? Partai lain dapat apa?” ujar seorang politikus partai itu, gusar.

Ia hanya mau dikutip dalam kondisi anonim. “Kami sakit hati sama Prabowo. Kok bisa pilih Sandi? Selama kami deal dengan Prabowo, kami main satu kamar, tidak bikin deal dengan partai-partai lain. Tapi yang lain main dua kamar, dan tiba-tiba deal dengan AHY batal dua hari sebelum pendaftaran.”

Tak seperti rekan-rekannya yang mencoba menahan geram di hadapan publik, Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief blak-blakan bicara nyaring di media sosial. “Demokrat menolak pencawapresan Sandi Uno karena melanggar etik koalisi. (Sandi) berasal dari Partai Gerindra, sama dengan capres, Prabowo.”

Rabu (8/8), Andi Arief pula yang mengentak jagat maya dengan twit menghina Prabowo Subianto sang Ketua Umum Gerindra. “Prabowo lebih menghargai uang ketimbang perjuangan. Jenderal kardus.”

“Jenderal kardus punya kualitas buruk. Kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis perjuangan. Belum dua puluh empat jam mentalnya jatuh ditubruk uang Sandi Uno untuk meng-entertain PAN dan PKS,” ujar Andi dalam rangkaian cuitannya.

Sandi membantah menyediakan mahar untuk PAN dan PKS. Ia juga tak lagi Gerindra karena telah mundur dari jabatan dan keanggotaannya di partai, juga dari posisinya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, agar dapat diterima semua partai koalisi.

Setelah melihat survei internal partai yang menunjukkan mayoritas pemilihnya mendukung Prabowo, Demokrat akhirnya tetap mendukung Prabowo, dan AHY ikut mengantar Prabowo-Sandi mendaftar ke KPU.

Episode Dua

Drama babak pertama usai. Duel Jokowi vs Prabowo Part II dimulai. Kali ini dengan Ma’ruf Amin di sisi Jokowi, dan Sandiaga Uno di sisi Prabowo.

Meski Ma’ruf Amin tak memiliki popularitas dan elektabilitas setinggi Mahfud, keikutsertaan Ketua MUI dan Rais Aam PBNU itu dalam Pilpres diyakini akan membuat Pemilu 2019 berbeda dengan Pemilu 2014 kala Jokowi tak putus dirundung isu agama.

“Narasi agama tidak bisa lagi dijual dan dimainkan. Minimal turun dibanding Pemilu 2014, apalagi dibanding Pilkada DKI Jakarta. Sebab sekarang yang dianggap memiliki simbol umat malah Jokowi,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya.

Analisis Yunarto seakan mengamini ucapan Ketua Umum PPP Romahurmuziy. “Kiai Ma’ruf kan pemimpin tertinggi NU. Dia diterima seluruh kalangan Islam. Dia pun mufti--pembuat fatwa--yang ditaati kelompok 212. Habib Rizieq saja cium tangan kepada Kiai Ma’ruf.”

Pada 2017, kesaksian Ma’ruf di pengadilan kasus penistaan agama terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, memberatkan tuduhan atas karib Jokowi itu. Ma’ruf bahkan mengeluarkan fatwa penista agama untuk Ahok--yang kini ‘dibalas’ mantan gubernur DKI Jakarta itu dengan kesiapan berkampanye untuk Jokowi-Ma’ruf sekeluarnya dari penjara.

Di saat Jokowi kini dapat menggarap segmen pemilih Islam lebih optimal, ia harus mewaspadai ancaman hilangnya sebagian suara dari basis massa pluralis--segmen yang melekat pada sosok Mahfud yang terpental.

“Pola pikir pemilih di segmen itu kan bertentangan dengan pandangan konservatif Ma’ruf serta fatwa-fatwa yang pernah ia keluarkan,” ujar Yunarto.

Maka Jokowi perlu membangun narasi baru tentang Ma’ruf. “Kiai Ma’ruf dulu kan juga politisi. Pernah di DPRD DKI Jakarta, DPR RI, MUI. Dia juga ahli ekonomi syariah. Jadi Jokowi harus mem-branding beliau,” kata Yunarto.

Ma’ruf pertama kali terjun ke dunia politik pada pemilu pertama yang digelar rezim Orde Baru di tahun 1971. Ma’ruf muda yang membawa bendera Partai Persatuan Pembangunan berhasil merebut kursi DPRD DKI Jakarta. Usianya masih 28 tahun ketika itu.

Sekian lama di PPP, ia berpindah haluan ke Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan kiai-kiai NU pasca-Reformasi. Lewat PKB, Ma’ruf melenggang ke Senayan, dan sempat menjabat sebagai Ketua Komisi VI DPR yang membidangi industri dan investasi.

Seusai masa jabatannya sebagai anggota lembaga legislatif, Ma’ruf berkiprah di MUI. Berikutnya, ia dipercaya SBY menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden, lalu ditunjuk Jokowi sebagai anggota Dewan Pengarah BPIP bersama Mahfud dan Megawati.

“Kapasitas beliau tidak diragukan karena dia anggota Dewan Ekonomi Syariah Nasional,” tegas Romahurmuziy, lagi-lagi senada dengan Yunarto.

Menurut sumber kumparan di lingkaran Istana, Ma’ruf memang terhitung dipercaya kalangan investor. Ia, bisa dibilang, figur ulama dan ekonom dalam satu paket untuk Jokowi.

“Dia mungkin bukan pilihan terbaik, tapi pilihan realistis,” ujar Yunarto.

Pemilihan nama Sandi oleh Prabowo juga dianggap Yunarto realistis. “AHY ditolak hebat oleh PKS. Ustaz Abdul Somad tak mau. Zulkifli Hasan tak cukup menjual dari sisi elektoral. Sehingga Sandi dimajukan--bisa karena tingkat penolakan terhadapnya lebih kecil, untuk mem-boosting suara Gerindra, atau terkait spekulasi logistik Prabowo.”

Meski tak sepopuler AHY, Sandi yang hanya 10 bulan duduk di kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta itu bukannya tak punya kelebihan.

“Dia anak muda, sipil--melengkapi Prabowo yang militer, pengusaha sukses, politisi yang berhasil mengalahkan Ahok di Pilkada, dianggap punya aura kemenangan, memiliki logistik, dan punya kemampuan branding luar biasa. Faktor-faktor itu bisa dibangun jadi narasi bagus,” kata Yunarto.

Pengetahuan ekonomi mikro juga jadi nilai tersendiri buat Sandi. Mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia dan Ketua Komite Tetap Bidang Usaha UMKM di Kadin itu berpengalaman sebagai praktisi.

Usia muda dan catatan prestasi Sandi diyakini Gerindra bisa menandingi label kiai senior 75 tahun yang merekat pada Ma’ruf.

Yunarto memprediksi Jokowi vs Prabowo Part II akan lebih banyak menyoroti kebijakan pemerintahan Jokowi sebagai petahana. “Soal asing-aseng, Poros Mekkah-Poros Beijing, tetap ada. Pemilu berhias kampanye SARA dalam bentuk lain, namun tidak separah 2014.”

Sementara Andi Arief menyinggung pentingnya penguasaan elektoral atas Jawa--pulau yang menjadi lumbung suara pada tiap pemilu karena dengan jumlah pemilihnya mencapai 60 persen dari total nasional.

“Dalam riwayat pilpres di Indonesia, kemenangan ditentukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Prabowo-Sandi perlu kerja keras untuk memenangi pertarungan di tiga Jawa itu,” ujar Andi.

Aktivis prodemokrasi yang diculik pada 1998 itu berpendapat, Gerindra, PAN, dan PKS lemah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Terlebih, Jawa Timur merupakan basis massa NU yang kini berbaris di sisi Jokowi.

Analisis Andi sama seperti prediksi peneliti sekaligus CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali. Menurutnya, Jokowi-Ma’ruf berpeluang meraup suara lebih besar di Jawa karena sama-sama berasal dari Jawa.

Hal tersebut juga sesuai hasil Pilpres 2014 saat Jokowi menang di Jawa, sedangkan Prabowo menang di Sumatera.

“Prabowo bukan ahli strategi perang pilpres. [...] Kita buktikan nanti apakah strategi kardus Sandi Uno bisa ubah itu,” ujar Andi, tetap pedas.

Sumber : https://kumparan.com/

Post a Comment

0 Comments

close